Sifat defensif adalah perilaku yang sebenarnya masih tergolong normal. Akan tetapi, jika intensitasnya terlalu sering, berarti perilaku ini cenderung negatif. Perilaku defensif ini bisa dimiliki oleh orang dewasa dan anak-anak.
Efek dari memiliki sifat satu ini dalam kadar berlebihan, akan membuat Anda tidak akan cocok dengan siapa saja. Bahkan perilaku ini bisa menyebabkan seseorang menjadi anti sosial. Kenali definisi serta penyebab dari sifat defensif di ulasan berikut.
Daftar Isi
Defensif Adalah, Ini Dia Ulasan Definisinya
Sifat defensif bisa juga diartikan sebagai bertahan karena dilanda rasa bersalah. Bertahan yang dimaksud adalah tidak mengakui rasa bersalah itu, justru berbalik menuduh.
Kata defensif sendiri memang sifatnya cenderung umum. Bahkan bisa dimasukkan ke dalam istilah taktik sepak bola. Artinya sama-sama bertahan, akan tetapi konteksnya sudah berbeda.
Kembali lagi ke defensif dalam perilaku seseorang. Respon bertahan saat disalahkan ini akan diikuti dengan perasaan malu, sedih, marah, hingga berujung kekerasan. Sikap defensif yang berlebihan memang ditunjukkan untuk menutupi perasaan malu.
Jika kadar bertahan dalam diri tidak terlalu berlebihan, sebenarnya sifat defensif ini tidak ada masalah. Akan tetapi, jika sudah sangat berlebihan bahkan menjadi watak, akan membentuk kepribadian bermasalah.
Anda tidak akan bisa diajak berkomunikasi, merasa paling benar, bahkan cenderung kasar. Sebenarnya perasaan defensif adalah mode alami manusia.
Akan tetapi jika mode tersebut terus diaktifkan, bisa berubah menjadi malapetaka. Kenali penyebabnya di pembahasan berikut agar perasaan defensif ini bisa dikontrol.
Penyebab Seseorang Mengalami Defensif, Kenali Lebih Detail
Tanda Anda memiliki sifat defensif berlebihan bisa dilihat dari mudahnya menyalahkan orang lain. Selain itu, kurang sabar mendengarkan orang lain yang memberi kritikan juga menjadi pertanda berikutnya.
Membenarkan apa yang dilakukan diri sendiri, sampai menuding bahwa orang lain tiada bedanya dengan Anda juga menjadi tanda lainnya. Tanda-tanda berikut sebenarnya muncul karena beberapa penyebab.
1. Kecemasan Sosial
Penyebab defensif adalah kecemasan sosial salah satunya. Kecemasan sosial ini terjadi karena Anda kurang pandai berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, isu kepercayaan diri juga bisa menjadi penyebab perasaan tersebut muncul.
Kecemasan sosial yang berujung defensif ini akan membuatmu cemas saat di circle tertentu. Apalagi jika sampai melakukan kesalahan, maka rasa cemas ini semakin parah.
Hal ini yang kemudian berujung pada tindakan defensif. Misalnya irit bicara, enggan bertegur sapa, sampai menganggap orang lain buruk.
2. Malu
Perasaan defensif akan muncul saat Anda sedang menutupi perasaan malu. Misalnya ketika ada yang membahas topik yang menyinggung kesalahan Anda. Otomatis untuk bertahan, sifat satu ini akan dimunculkan.
Perasaan malu memang wajar dan menjadi fitrah-nya manusia. Akan tetapi dalam konteks defensif, Anda akan memutarbalikkan keadaan. Bisa dengan menyalahkan orang lain, sehingga memicu pertengkaran.
3. Menyembunyikan sesuatu
Menyembunyikan sesuatu dalam konteks ini adalah kebenaran bisa menjadi sebab perilaku defensif. Orang yang berbohong sebenarnya kentara dengan memberitahukan keterangan secara berbelit-belit.
Berbicara yang berbelit-belit ini merupakan wujud kehati-hatian agar kebenaran tidak terungkap. Perasaan kalut yang menyelimuti juga menjadi faktor lain seseorang bersifat defensif.
Sifat ini cenderung berbahaya jika Anda enggan berkata jujur terus-menerus. Akan sangat merugikan bagi diri sendiri karena dianggap pembohong. Selain itu, merugikan orang lain juga karena terus-terusan dibohongi.
Baca Juga :
- Lambang Superman Bukan Singkatan, Melainkan?
- Nilai dan Peran Guru Penggerak – Nilai yang Harus Dimiliki Guru Penggerak
- Cara Melihat Apakah Koneksi Internet Anda Aman atau Tidak
4. Memerlukan pembenaran
Hal lain yang membuat defensif adalah jalan untuk dilakukan yakni pembenaran. Seseorang yang sedang dikritik biasanya akan menanggapinya dengan mencari pembenaran.
Sedikit sekali yang legowo menerima kritik tanpa mencari pembenaran. Sebenarnya bersifat tenang saat dikritik adalah kunci mengurangi sifat defensif. Mencari pembenaran tergolong kurang etis.
Apalagi jika hal yang Anda lakukan sebelumnya melanggar norma. Justru perilaku ini akan membuat Anda menyerang balik pengkritik, bahkan berbuat kasar.
Sifat defensif memang terkadang diperlukan untuk membela diri sendiri. Akan tetapi pastikan kadar defensif adalah dalam batas wajar. Jangan sampai membuat perilaku diri sendiri mengganggu sekitar.






































