Mengenal Sosok Sri Sultan Hamengkubuwono X, Penguasa Yogyakarta
Sumber : Official NET News

Sri Sultan Hamengkubuwono X merupakan Raja dari Kesultanan Yogyakarta yang bersejarah di Indonesia. Ia lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 April 1946, lulus dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Serta menjadi Ketua Komite Olahraga DIY, Direktur Pelaksana PT Punokawan Konstruksi dan Presiden Komisaris PG Madukismo.

Dia diberi gelar Sri Sultan pada tahun 1988, menggantikan Ayahnya. Secara profesional, Sri Sultan Hamengkubuwono X telah menjabat sebagai Presiden Direktur PT Punokawan, Presiden Komisaris PG Madukismo, Ketua Tim Ahli Gubernur Yogyakarta dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.

Selain itu, ia juga aktif di beberapa organisasi dan memegang sejumlah posisi penting. Termasuk Ketua Kadinda Yogyakarta, Ketua DPD partai Golkar Yogyakarta dan Ketua KONI Yogyakarta.

Dia pun lulusan Fakultas Hukum di Universitas Gadjah Mada. Di sisi lain, Sri Sultan mengembangkan pola pikir untuk kemajuan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tatiek Dradjad Supriastuti merupakan Istri dari Sri Sultan Hamengkubuwana X yang menikah pada tahun 1968. Hamengkubuwono X juga termasuk Penguasa Yogyakarta ke-10, berasal dari garis panjang keluarga kerajaan Jawa. Dimana, takhta diturunkan dari Ayah ke anak secara turun-temurun. Dia juga Gubernur kota, posisi politik yang dipilihnya secara demokratis pada tahun 1998.

Dia menjadi seorang tokoh yang sangat dihormati, Sultan berusia 71 tahun itu hampir mencalonkan diri sebagai presiden pada 2009 bersama Golkar. Pada saat itu merupakan partai politik terbesar di Indonesia.

Dalam kegiatan Deklarasi di Cianjur, Hamengkubuwono X juga ikut serta karena sebagai tokoh nasional yang berperan cukup besar di Indonesia. Kegiatan Deklarasi ini dicetuskan oleh dirinya, serta beberapa tokoh lain saat terjadinya reformasi di Indonesia.

Bagaimana Perjalanan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono X?

Pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono X, Yogyakarta mengalami gempa bumi yang terjadi pada bulan Mei 2006. Mencapai skala 5,9 hingga 6,2 Skala Richter. Bahkan, menelan korban jiwa yang menewaskan lebih dari 6000 orang dan puluhan ribu orang lainnya luka-luka.

Ia pun pernah mengeluarkan serangkaian sabdatama, dengan konsep kekuasaan Raja memiliki kekukatan besar dan rakyat harus mematuhi. Sabdatama ini dikeluarkan pada tahun 2015.

Sabdatama kedua yaitu penggantian nama menjadi Hamengkubawono dan sabdatama terakhir pemberian gelar untuk Putri tertuanya dengan GKR Mangkubumi.

Hamengkubuwono X dinobatkan sebagai Raja tepat pada tanggal 7 Maret 1989, Selasa Wage 19 Rajab 1921. Dengan gelar resmi Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa.

Yogyakarta adalah wilayah khusus di Indonesia yang dibuat sebagai pengakuan atas kontribusi utama pemimpin lokalnya terhadap revolusi 1945-1949 melawan Belanda. Sehingga kota ini menjadi kota pendidikan dan filsafat, tempat tinggal beberapa Universitas dan lembaga keagamaan paling maju di Indonesia.

Baca Juga :

Tradisi dan filosofi pengadilan yang dipimpin oleh seorang Sultan, berfungsi sebagai Gubernur wilayah khusus. Terus memelihara kehidupan spiritual dan intelektual.

Gubernur/Sultan Yogyakarta saat ini, Sri Sultan Hamengkubuwono X serta Ayahnya memainkan peran utama dalam kelahiran republik demokratik Indonesia di tahun 1940-an.

Selain itu, juga melahirkan pemerintahan otoriter kembali pada tahun 1998 setelah 45 tahun. Dia terus memainkan peran, menstabilkan dan memodernisasi kekuasaan hingga hari ini. Menengahi arus lintas politik dan agama di negeri ini.

No ratings yet.

Nilai kualitas artikel




LEAVE A REPLY

Tulis komentar Anda
Masukkan nama Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.