Proses Ta aruf Dalam Islam yang Benar Sesuai Sunnah

Proses Ta aruf dalam Islam yang Benar Sesuai Sunnah

Di dalam islam, pacaran memang tidak diperbolehkan karena termasuk perbuatan zina. Maka dari itu, disarankan untuk menempuh dengan jalan yang halal. Maksudnya mengenal pasangan tidak harus melalui pacaran, tetapi bisa dengan ta’aruf.

Perlu ditegaskan lagi jika pacaran yang lebih indah dan menyenangkan adalah setelah menikah. Lalu bagaimana proses ta aruf dalam islam yang benar sesuai sunnah? Supaya lebih jelas, simak uraian di bawah ini.

Definisi Ta aruf Dalam Islam

Istilah ta’aruf itu sendiri secara bahasa berasal dari kata ta’arafa atau yata’arafu, artinya saling mengenal. Di dalam al-Qur’an, kata ini bisa ditemukan dalam surat al-Hujurat,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Artinya : “ Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (li-ta’arofu)…” (QS. Al-Hujurat:13).

Berdasarkan makna dari surat tersebut, proses ta aruf dalam islam antara laki-laki dan wanita yang hendak menikah diharuskan untuk saling berkenalan terlebih dahulu sebelum menuju jenjang pernikahan. Ada tiga hal yang perlu dibedakan, antara lain:

  1. Ta’aruf : saling berkenalan. Pada umumnya dilakukan sebelum khitbah
  1. Khitbah: lamaran atau meminang, menawarkan diri untuk menikah. Khitbah itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu khitbah secara terang-terangan dan dalam bentuk isyarat.

Allah Berfirman:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ

Artinya : “Tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. (QS. Al-Baqarah: 235).

  1. Nadzar : Melihat calon pasangan. Biasanya nadzar dilakukan ketika sedang ta’aruf atau ketika sedang melamar.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوْهُ إِلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَلْ

Artinya : ”Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang seorang wanita, jika dia bisa melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!” (HR. Ahmad 3/334, Abu Dawud  2082 dan dihasankan al-Albani).

Bagaimana Cara atau Proses Ta’aruf yang Benar?

Sebenarnya tidak ada cara khusus mengenai masalah ta’aruf. Akan tetapi, intinya adalah bagaimana seseorang bisa menggali data calon pasangannya tanpa melanggar aturan syariat atau adat masyarakat. Namun, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan terkait ta aruf dalam islam.

  1. Sebelum terjadi atau adanya akad nikah, kedua calon pasangan statusnya masih orang lain.

Keduanya sama sekali tidak ada hubungan kemahraman sehingga berlaku aturan laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya. Mereka tidak diperbolehkan untuk berduaan, saling bercengkrama dan sebagainya, baik secara langsung maupun melalui media lainnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

Artinya: “Jangan sampai kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya), karena setan adalah orang ketiganya.” (HR. Ahmad dan dishahihkan Syu’aib al-Arnauth).

Ketika ada laki-laki dan wanita sedang berduaan, maka setan menjadi pihak ketiga. Keberadaan setan bukan ingin merebut calon pasangan Anda. Akan tetapi, mereka hendak menjerumuskan manusia ke dalam maksiat yang lebih parah.

  1. Luruskan Niat

Ta aruf dalam islam yang dilakukan benar-benar karena i’tikad baik, yaitu karena ingin menikah. Bukan karena berkeinginan untuk memiliki koleksi kenalan, cicip-cicip dan semua gelagat tidak serius. Tentu ini akan membuka peluang memberikan harapan palsu kepada orang lain. Tindakan ini termasuk sikap mempermainkan orang lain dan kedzaliman.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Artinya: “Kalian tidak akan beriman sampai kalian menyukai sikap baik untuk saudaranya, sebagaimana dia ingin disikapi baik yang sama”. (HR. Bukhari & Muslim).

  1. Menggali data pribadi melalui tukar biodata

Kedua pasangan bisa saling mengenal dengan menggali data pribadi melalui tukar biodata. Masing-masing bisa saling menceritakan biografinya secara tertulis. Hal ini dilakukan supaya tidak harus bertemu untuk saling bercerita.

Tidak semua hal harus dibuka, namun ada bagian yang harus terus terang. Terutama berkaitan dengan data untuk kelangsungan keluarga sehingga tidak perlu diketahui orang lain.

Apabila masih ada data atau keterangan tambahan yang diperlukan, sebaiknya untuk tidak melakukan komunikasi secara langsung. Namun, komunikasi bisa melalui pihak ketiga, seperti orang tua atau kakak lelakinya.

  1. Setelah ta’aruf diterima

Setelah ta’aruf diterima, bisa jadi kedua pasangan tersebut belum pernah bertemu. Keduanya hanya bertukar biografi saja, maka bisa dilanjutkan dengan nadzar. Nadzar bisa dilakukan dengan cara datang langsung ke rumah calon pengantin wanita, sekaligus menghadap langsung orang tuanya.

Dari al-Mughiran bin Syu’bah radhiyallah’anhu, beliu menceritakan :

“Suatu ketika aku berada di sisi Nabi shallallahu’alaihi wasallam, tiba-tiba datanglah seorang lelaki. Dia ingin menikahi wanita Anshar. Lantas Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepadanya,

“Apakah engkau sudah melihatnya?”

Jawabnya,  “Belum.”

Lalu beliau memerintahkan,

انْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

Artinya: “Lihatlah wanita itu, agar cinta kalian lebih langgeng.” (HR. Turmudzi 1087, Ibnu Majah 1865 dan dihasankan al-Albani”.

  1. Diperbolehkan untuk memberikan hadiah ketika proses ta’aruf

Perlu diketahui, jika hadiah sebelum pernikahan hanya boleh dimiliki oleh wanita calon istri dan bukan keluarganya. Apabila berlanjut menikah, hadiah tersebut menjadi hak pengantin wanita, Apabila nikah-nya batal maka bisa dikembalikan.

Baca Juga :

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا كَانَ مِنْ صَدَاقٍ أَوْ حِبَاءٍ أَوْ عدةٍ قَبْلَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لَهَا وَمَا كَانَ بَعْدَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لِمَنْ أُعْطِيَهُ أَوْ حُبِىَ

Artinya : “Semua mahar, pemberian  dan janji sebelum akad nikah itu milik pengantin wanita. Lain halnya dengan pemberian setelah akad nikah, itu semua milik orang yang diberi” (HR. Abu Daud 2129).

Nah itulah proses ta’aruf dalam islam yang benar sesuai sunnah. Diharapkan, uraian di atas bisa memberikan gambaran mengenai ta aruf dalam islam. Semoga informasi ini bisa memberikan banyak manfaat