Sri Astuti, Ibu Rumah Tangga yang Sukses Memasarkan Produk Kulinernya hingga ke Mancanegara

shares |

Kisah Sukses Usaha Kuliner Sri Astuti

Kisah Sukses Usaha Kuliner - Tidak ada batasan apapun untuk menjadi pengusaha yang sukses. Semua orang dapat menjadi pengusaha sukses jika bersungguh-sungguh menjalankannya. Kunci utama untuk menjadi pengusaha sukses adalah kemauan yang keras dan pantang menyerah dalam menjalankan usaha. 

Dalam menjalankan bisnis di bidang kuliner, tidak hanya variasi dan modifikasi yang diperlukan, namun produk tersebut dapat bersaing di tingkat nasional bahkan internasional merupakan capaian yang harus dipikirkan oleh pengusaha di bidang ini. Tidak hanya melebarkan sayap di dalam negeri, ke luar negeri pun harusnya dilakukan untuk memperluas jangkauan pasar. Salah satu pengusaha bisnis kuliner yang telah sukses melebarkan sayap hingga luar negeri adalah seorang wanita bernama Sri Astuti.

Siapa Sri Astusi dan Bagaimana Kisah Perjalanannya?

Sri Astuti yang berasal dari Yogyakarta mengangkat bisnis kuliner dengan ragam makanan yang sering kita jumpai sehari-hari dan merupakan makanan yang banyak digemari orang Indonesia. Diantaranya adalah bawang goreng dan abon. Makanan yang cukup sedehana namun diminati orang Indonesia dalam setiap makanannya membuat bisnis Sri Astuti mendapatkan respon yang baik dan dapat meraup keuntungan yang lumayan besar.

Perjalanan kisah sukses usaha kuliner Sri Astuti dimulai sejak dia hijrah ke kota Palu. Saat itu Sri Astuti ikut suaminya yang dipindah tugaskan ke kota Palu, pada tahun 1981. Saat tinggal di Palu dia merasa bahwa ini saat yang tepat dan merupakan peluang yang bagus bagi dirinya untuk mengembangkan bakat bisnis di bidang kuliner. Dengan dukungan dari suaminya, Sri Astuti mulai memikirkan bisnis kuliner yang cocok di kota tersebut. Dengan berbagai pertimbangan dia memutuskan untuk memulai bisnis catering.

Pada tahun 1997 Sri Astuti mulai beralih dari bisnis catering dan mulai fokus dalam memproduksi abon sapi. Abon sapi olahannya memang enak dan lezat sehingga tidak sulit untuk memasarkan kepada tetangga dan warga di sekitar tempat tinggalnya. Awalnya Sri hanya memproduksi abon sebayak 4 kilogram setiap harinya. Namun dengan banyaknya permintaan Sri semakin menambah produksinya dan bisnisnya mulai berkembang. Dengan inovasi baru yang dilakukan oleh Sri Astuti, Sri Rejeki yaitu brand yang membawahi abon sapi tersebut mulai merambah atau berkembang ke abon ayam dan lele.

Pengembangan Bisnis Bawang Goreng

Seiring berjalannya waktu, Sri memikirkan pengembangan bisnisnya ke ranah yang berbeda dari abon. Sri Astuti melihat bahwa bawang batu yang merupakan khas dari Palu memiliki kualitas yang baik sehingga dia memiliki ide untuk membuat bawang goreng yang dikemas dengan menarik. Sri langsung mengeksekusi idenya dan membuat olahan bawang goreng dalam kemasan. Ternyata masyarakat sangat antusias dan menyukai olahan bawang goreng milik Sri yang memiiki tekstur yang renyah.

Perjalanan bisnis tentunya tidaklah selalu mulus. Sri Astuti pernah tertipu ratusan juta rupiah. Saat itu dia mendapat tawaran menggiurkan untuk memasok bawang gorengnya ke swalayan yang ada di Jakarta. Tawaran yang sangat menggiurkan tersebut disambut hangat oleh Sri. Dia membayarkan uang syarat kerjasama sebanyak 125 juta rupiah. Namun ternyata oknum yang menjanjikan hal tersebut melarikan diri bersama uang Sri. Setelah hampir menyerah Sri mulai bangkit dan mulai dapat menutup kerugian tersebut secara perlahan.

Kisah Sukses Usaha Kuliner Sri Astuti

Berbagai rintangan yang sudah dialami Sri Astuti membuatnya lebih kuat dan mempelajari banyak hal dalam berbisnis. Berkat berbagai cobaan yang sudah dialaminya dalam berbisnis membuatnya dapat menjalankan bisnis lebih baik dan membuat brand kuliner miliknya Sri Rejeki lebih maju. Bahkan sekarang produknya sudah diekspor ke negara lain seperti Australia, Amerika, serta Belanda. Sri Astuti juga pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden SBY dalam kategori UKM pada tahun 2005.
loading...

Rekomendasi

Komentar dengan bijak adalah sikap yang mulia. Dilarang berkomentar spam

loading...